SANTRI

Media santri dan pesantren

Beragama dan Berbudaya

27.9.16

Merawat Nalar Berbangsa

 *Iqbal Syauqi
Salah satu founding fathers negara ini, Mohammad Hatta, pernah menyatakan bahwa ia tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka dan lepas dari penjajahan. Tentu pernyataan itu bukan pepesan kosong. Hal yang demikian menyiratkan semangat memerdekakan negeri ini, dengan selalu menjaga konsistensi dalam menjaga nalar dan optimisme untuk terus memperjuangkan kemerdekaan sampai akhir. Dan kita tahu, Bung Hatta pun memang melaksanakan janji itu.

Pancasila Merukunkan Umat Beragama

Oleh: Fajri Zulia Ramdhani*

Kehidupan umat beragama di Indonesia sedang dihadapkan pada kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan banyaknya perilaku kekerasan yang dilakukan para pemeluk agama. Hampir di setiap daerah, fenomena ini pernah terjadi. Bahkan kini kenyataannya, di banyak belahan dunia sedang terjadi konflik dengan corak keagamaan. Meskipun agama bukan satu-satunya faktor, pertimbangan keagamaan memainkan peran dalam setiap konflik.[1] Kasus yang terjadi pun sangat bervariasi, salah satunya adalah kasus pengrusakan rumah ibadah yang terjadi di Tanjungbalai, Sumatera Utara.
Kejadian yang baru terjadi pada Juli 2016 kemarin, sepeti dilansir nasional.kompas.com. Terjadi pengrusakan terhadap 15 bangunan yang diantaranya adalah rumah ibadah seperti Vihara dan Klenteng. Hal ini bermula dari keberatan yang disampaikan oleh salah seorang warga Tanjungbalai keturunan etnis Tionghoa mengenai kerasnya suara adzan dari Masjid Al-Makshum. Distorsi informasi terkait keberatan tersebut menyulut kemarahan warga Muslim Tanjungbalai.[2]
Hidup dalam kondisi negara yang plural termasuk dalam konteks beragama, sering menyebabkan gesekan dalam kehidupan beragama. Bahkan menurut Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation) mengatakan kecendrungan masyarakat berpandangan dan berprilaku intoleran terus meningkat. Dari hasil survei tahun 2016, 1.520 responden yang tersebar di Indonesia. Sebesar 7,7 % menyatakan bersedia berpartisipasi melibatkan kekerasan atas nama agama.[3]
            Tidak hanya pola pandang, kekerasan yang diperankan oleh para pemeluk agama secara kolektif atau komunal terus meningkat. Ashutosh Varshney dalam salah satu penelitiannya menyebutkan tingginya angka kekerasan komunal di Indonesia mencapai 89,3 % untuk kekerasan komunal yang membawa korban, dan 16,6 % untuk peristiwa yang bersifat insiden atau tidak memakan korban.[4]
            Konflik yang sering kali berulang ini, adalah sebuah konsekuensi dari Pasal 28E UUD 1945 yang mempersilahkan warga negara Indonesia untuk menganut agama yang diyakininya. Pada prinsipnya, negara menjamin perlindungan dan keamanan warganya dalam berkeyakinan. Hal ini selaras jika kita menengok pada ideologi bangsa, yakni Pancasila. Pada sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) TAP MPR.IV tanggal 23 Maret 1973 dinyatakan bahwa :

1.     Atas dasar kepercayaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa maka peri kehidupan beragama dan peri kehidupan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesai dengan falsafah Pancasila.
2.   Pembangunan agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ditujukan untuk pembinaan suasana hidup rukun diantara sesama umat beragama, semua menganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta meningkatkan amal dalam bersama-sama membangun masyarakat.[5]
Dari pernyataan pada GBHN diatas, kata “hidup rukun diantara sesama umat beragama” dapat diterjemahkan sebagai cita-cita luhur bangsa adalah harmonis dalam keberagaman, termasuk didalamnya dalam kepercayaan bertuhan. Agama masing-masing mengajarkan hidup dalam kedamaian dan keselarasan. Agama  menuntut pemeluknya dalam totalitas fanatisme. Maksudnya, pemeluk agama secara penuh beribadah dan mengabdikan diri pada ketentuan ilahi. Sehingga diharapkan nilai perdamaian yang termaktub dalam ajaran agama dapat terrepresentasi di  kehidupan yang rukun untuk menyukseskan cita-cita luhur tersebut.
“Kemanusiaan yang adil dan beradab”, sila kedua ini menuntut rakyat Indonesia untuk dapat berprilaku adil juga beradab. Atas nama persaudaraan dan kemanusiaan, dalam berbagai hubungan. Ini dapat kita implementasikan dalam kegiatan sosial yang melibatkan banyak pihak secara umum. Baik sesama warga negara, dengan warga negara asing, sesama pemeluk agama, ataupun dengan antar pemeluk agama,
Pada sila ketiga yakni, “Persatuan Indonesia”. Pernyataan yang tegas, lugas. Indonesia bukanlah negara yang dapat dipisahkan hanya kerena multikultural. Indonesia pada hakekatnya satu dan berpadu. Keragaman adalah seni dalam berkehidupan, konflik adalah pendewasaan, yang kesemuanya tidak mempengaruhi Nasionalisme berkebangsaan.
Prinsip bersatu ini bukanlah menghendaki perpaduan semua agama untuk menyeragamkan (Sinkretisme Agama).  Melainkan menyejajarkan kesemua agama dengan porsi yang sama untuk dapat tetap harmonis. Dalam bentuk realisasi perdamaian, hal-hal yang berkaitan pada kebijakan umum yang menyinggung kehidupan beragama dimusyawarahkan dengan sistem perwakilan. Seperti yang dicantumkan pada sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Pada 30 November 1967 dilangsungkan Musyawarah Antar Agama di gedung Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Jakarta. Bukti nyata negara serius menghendaki persatuan ini adalah dengan hal yang dilaksanakan pada sila keempat tadi. Karena dalam kesempatan tersebut terdeklarasikanlah istilah Kerukunan Hidup Antarumat Beragama. Pertemuan ini, tidak hanya memperbincangkan mengenai persoalan yang menyangkut Agama, namun juga sebagai realisasi dari realisasi keragaman agama, suku, etnis pada Bangsa Indonesia.[6]
Dan pada sila yang terakhir, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Setelah menyatakan prinsip adil dan beradab atas nama kemanusiaan. Maka, Pancasila juga menegaskan keadilan dalam tata cara bergaul untuk sesama warga negara Indonesia. Bagaimanapun adatnya, keturunan darimanapun, agama apapun yang dianut maka atas nama bangsa, harus diperlakukan secara adil. Kesemuanya dari lima dasar tersebut, mengandung muatan yang saling berkaitan dan menegaskan tentang keluhuran budi pekerti dan cita-cita bangsa.
Lalu mengapa konflik masih tetap terjadi bahkan cenderung meningkat, padahal ideologi bangsa menyuarakan keharmonisan?
            Walaupun pada dasarnya agama menghendaki perdamaian, namun terkadang beberapa pihak memberikan interpretasi terhadap ketentuan yang bertentangan dengan norma agama harus diberangus. Inilah pihak yang akhirnya, menyulut ketidakharmonisan baik dalam intern umat beragama, maupun antarumat beragama.
            Indonesia sebagai bangsa plural, sebenarnya telah menunjukkan eksistensinya untuk tetap utuh dibawah bendera merah putih. Kasus yang terjadi, juga tidak dapat sepenuhnya membenarkan bahwa persatuan bangsa terkikis oleh sosial bermasyarakat antarumat beragama. Satu contoh, perayaan Hari Raya Nyepi di Bali dapat dilaksanakan dengan tertib. Nyepi merupakan sebuah peringatan keagamaan pada Tahun baru Saka. Hari raya ini menuntut sejumlah pantangan, yang diantaranya tidak bepergian. Tertibnya pelaksanaan ibadah Nyepi ini, adalah satu hal yang menunjukkan bagaimana muslim, dan umat lain yang berada di Bali juga menghormati perayaan Nyepi tersebut dengan juga tidak bepergian.
            Harmonisasi pelaksanaan Hari Raya Nyepi ini, juga terjadi di beberapa wilayah lain walaupun dengan pelaksanaan yang berbeda. Sejumlah permasalahan yang terjadi hendaknya tidaklah membuat kondisi rukun yang telah subur selama berabad-abad lamanya di Indonesia ini luntur.
            Jika kita kaitkan dalam peningkatan pandangan intoleran dalam beragama. Maka, sebaiknya diri kita juga dibantu dengan program pemerintah memahamkan ulang sebenarnya apa yang diingini leluhur saat memerjuangkan bangsa. Pemerintah secara penuh telah memfalisilitasi konstitusi terhadap pendirian rumah ibadah dan batasan interaksi akidah.
            Fanatisme beragama dapat kita laksanakan dengan secara penuh dalam menjalankan semangat ibadah. Namun, jangan lupa toleransi dan kebersamaan juga adalah fanatisme bernegara yang kita bangun untuk membentuk kerukunan antarumat beragama.
*Penulis adalah anggota aktif CSSMoRA UIN Walisongo Semarang Angkatan 2014 dan Anggota BSO SANTRI CSSMoRA Nasional



[1] Adon Nasrullah Jamaludin, Agama dan Konflik Sosial, (Bandung : Pustaka Setia, 2015) hlm. 207
                [2] Diakses dari pernyataan Komnas Ham yang diakses pada 15.06 WIB, 29 Agustus 2016 di : http://nasional.kompas.com/read2016/08/11/22375381komnas.ham.distorsi.informasi.sebabkan.kerusuhan.tanjung.balai
                [3] Diakses dari pernyataan Yenny Wahid yang diakses pada 15.20 WIB, 29 Agustus 2016 di : http://m.liputan6.com/regional/read/2573619/survei-jawa-barat-juara-kasus-intoleransi-di-indonesia
                [4] Adon Nasrullah Jamaludin, op.cit., hlm. 209
                [5] Ibid., hlm. 96
[6] Ibid.,hlm. 95

26.9.16

Menaklukkan Pembunuh No. 1

Penulis      :  Dr.A. Fauzi Yahya, Sp.J.P(K).FIHA

Tebal         :  xxxiv + 218 halaman;24 cm

Penerbit    :  Mizan Media Utama (MMU)

Terbit       :  Juli 2010

Peresensi  : Sri Purwanti 

            Modernisasi pada saat ini turut mempengaruhi budaya masyarakat dalam beberapa aspek kehidupan. Sebut saja kebiasaan mengkonsumsi junk food yang dianggap sebagai solusi bagi masyarakat yang tidak memiliki cukup waktu, rendahnya kesadaran masyarakat untuk membiasakan pola hidup sehat, dan tingkat stress yang belakangan  cenderung meningkat. Faktor faktor tersebut cenderung memperbesar resiko beberapa penyakit kronik yang menjadi tren global. Salah satu yang menduduki prevalensi tertinggi adalah PJK (Penyakit Jantung Koroner).

            Penyakit Jantung Koroner (PJK) termasuk bagian dari penyakit kardiovaskular dan merupakan penyakit yang menjadi wabah di dunia modern. Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), September 2009, menyebutkan bahwa penyakit tersebut merupakan penyebab kematian pertama sampai saat ini. Pada 2004, diperkirakan 17,1 juta orang meninggal karena PJK. Angka ini merupakan 29% dari penyebab kematian global. di Indonesia sendiri, data dari kementrian kesehatan menyebutkan bahwa kematian akibat PJK sebesar 9,3 %.

Serangan jantung sejatinya merupakan puncak manifestasi klinis PJK. Terjadi ketika liang pembuluh koroner jantung tersumbat dan mengalami penyempitan sehingga jantung kekurangan oksigen dan nutrisi. Dampak yang paling berbahaya adalah jetika sel jantung mengalami kematian (nekrosis). Serangan jantung menjadi tidak asing di kalangan masyarakat setelah secara beruntun menimpa beberapa tokoh fenomenal dunia hiburan, yaitu Mbah Surip, W.S. Rendra, Adjie Masa’id , Meggy Z juga musisi kenamaan Gombloh.

            Sebagaimana karakteristik penyakit kronik, sangat sulit menentukan penyebab utama PJK. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memgetahui faktor faktor resiko sebagai pemungkin. Menurut William Kannel diantaranya adalah usia, jenis kelamin, faktor keturunan, hiperkolesterol, tekanan darah tinggi, kencing manis, kebiasaan merokok,dll.

            Akhir akhir ini para ahli memusatkan titik perhatian pada gen gen perusak jantung pada pertengahan 1990-an, seorang ahli jantung terkemuka dari Cleveland Clinic Dr. Eric Topol menemukan kerusakan gen pada kromosom 15 yang disebut MEF2A. Kerusakan pada gen ini menyebabkan pembuluh koroner menjadi rapuh. Sementara itu sebuah tim dari University of Utah berhasil mengidentifikasi lebih dari 300 varian gen yang memengaruhi reseptor LDL (Law Density Lipoprotein). Seseorang yang terlahir dari orang tua dengan gen cacat seperti ini akan beresiko mengalami serangan jantung pada usia muda. Bahkan resiko tersebut dapat terjadi pada usia balita.dalam hal ini gen penyebab penyakit jantung koroner tidak berperan tunggal, bahkan saling berinteraksi secara kompleks sehingga mempengaruhi resiko penyakit jantung.

            Secara sederhana, dengan uraian singkat dan jelas disertai dengan ilustrasi gambar yang mempermudah pemahaman, buku ini menyajikan informasi tentang fungsi jantung, serta apa penyebab pembuluhnya tersumbat di bagian pertama. Faktor faktor yang memperbesar resiko terkena PJK,ciri ciri seseorang menderita PJK,dijelaskan pada bagian kedua dan ketiga. Sementara di bagian keempat kelima, dan keenam menjelaskan terapi bagi penderita PJK, tindakan yang harus dilakukan ketika menemukan kejadian serangan jantung,dan peran aktivitas fisik sebagai tindakan prefentif Penyakit Jantung Koroner.

            Buku ini memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memahami seluk beluk Penyakit Jantung Koroner secara komperhensif dan sistematis karena disusun dengan sistematika yang runtut, dan bahasa yang sederhana.  Penyampaian yang lugas namun tidak mengesampingkan aspek ilmiah menjadikan buku ini cocok digunakan sebagai sumber informasi bagi masyarakat yang awam dengan dunia medis maupun masyarakat yang terbiasa dengan istilah medis. Penyajian dengan gambar dan ilustrasi yang menarik juga menjadi daya dukung positif bagi masyarakat untuk menangkap pokok informasi yang disampaikan oleh penulis.

            Informasi tentang permasalahan medis menjadi kebutuhan bagi masyarakat, namun kesadaran akan hal itu belum sepenuhnya terbangun. Jenis penyakit, karakteristik umum, upaya preventif pencegahan penyakit seperti PJK sebaiknya dimengerti oleh masyarakat dengan tujuan mencegah dan mengantisipasi faktor resiko.

20.9.16

BSO Santri Kembali Adakan Workshop dan Rapat Kerja


Tangerang Selatan, mediasantri.com
Badan Semi Otonom yang membidangi kejurnalistikan di bawah naungan Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA), BSO Santri, kembali mengadakan workshop dan rapat kerja. Kali ini lokasi dari kegiatan tersebut berada di Aula Meunasah Aceh, Ciputat, Tangerang Selatan. Workshop ini sendiri berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Ahad, (16-18/09/2016). Kegiatan ini dibuka oleh ketua CSSMoRA Nasional, M Zidni Nafi', mahasantri CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2013.

Pembahasan yang saat workshop ternyata mampu menginspirasi para redaktur, hal ini dikarenakan pokok bahasan dari workshop yang diadakan selama tiga hari ini membahas mengenai hubungan santri dengan media massa. "Ada tiga hal besar yang sangat berpengaruh di dunia. Politik, kapitalis dan media massa," ungkap Zidni di awal pembukaannya. Tak dapat dipungkiri, setengah dari penduduk bumi menjadi konsumen media sosial.

Workshop yang berlangsung selama kurang lebih satu jam ini pun berjalan dengan sangat lancar. Para hadirin pun terlihat antusias mengikuti jalannya acara, hal itu terlihat dari banyaknya tanggapan saat diskusi yang dimoderatori oleh ketua umum Majalah Santri, M Iqbal Syauqi. Seusai workshop, kegiatan dilanjut dengan pelantikan pengurus baru Majalah Santri oleh ketua Umum CSSMoRA Nasional. Pelantikan pengurus baru ini berlangsung dengan khidmad. 

Selepasnya, kegiatan dilanjut dengan rapat kerja dari pengurus baru Majalah Santri. Rapat kerja ini berlangsung dengan serius tapi santai. "Rapat kerja ini santai saja, bisa sambil duduk nyandar atau makan minum," gurau Syauqi mencairkan suasana. Pembahasan dimulai dengan pedoman BSO Santri, yang mana berisi peraturan yang harus disepakati oleh semua redaktur dan bisa disanggah apabila memiliki kerancuan. Pada kepengurusan kali ini, susunan redaktur Majalah Santri memiliki empat devisi yang meliputi devisi majalah, media online, kaderisasi dan periklanan. Keempatnya memiliki kesinambungan yang tak dapat dipisahkan, artinya saling membutuhkan untuk menjadikan Majalah Santri lebih baik ke depannya. (Icut/Nan)

SANTRI Giatkan Literasi Digital

Tangerang Selatan - mediasantri.com
Budaya literasi dalam dunia Islam awalnya tidak begitu populer, mengingat Rasulullah Sallallahu ‘alahi wa Sallam khawatir jika wahyu dituliskan akan tercampur dengan perkataan beliau. Namun atas inisiasi Sayyidina Umar RA yang kemudian dilanjutkan Utsman RA berhasil mebangun budaya literasi dengan dibuktikan adanya mushaf Utsmani yang masih eksis hingga saat ini.

Kemajuan dunia digital menuntut santri ikut terjun kedalamnya, Majalah Santri sebagai BSO CSSMoRA Nasional merespon hal ini dengan menggelar workshop media massa.

Acara yang dibuka langsung oleh ketua CSSMoRA Nasiomal ini dimulai pukul 10.00 WIB di Aula Meunasah Ciputat yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai universitas yang menjalin kerjasama dengan Program Beasiswa Santri Berprestasi.

Pemateri yang dihadirkan dalam acara ini adalah wartawan NU Online kontributor Bandung, dalam pemaparannya beliau menyampaiakan bahwa saat ini situs Islam yang populer adalah situs yang isinya cukup meresahkan masyarakat sehingga beliau mendorong agar mediasantri dapat bersaing dalam kancah digital khususya dalam rating website.

Selain itu ia memberikan trik-trik agar bisa memberdayakan website agar lebih aktif dan banyak pengunjungnya termasuk didalamnya dipaparkan trik menambah like di fanspage Facebook dan follower di Instagram serta twitter.


Sementara itu ketua panitia Syauqi menyampaiakan semoga acara ini dapat menjadi pemacu semangat kru BSO SANTRI agar dapat konsisten dalam bertugas. (obi/syau)

Workshop Media Massa, Peserta Menjawab Tantangan Narasumber

Tangerang Selatan - mediasantri.com
Aula Meunasah Fatahillah mulai terlihat pengunjung sejak Sabtu pagi, tanggal 17 September lalu. Aula yang terletak tak jauh dari UIN Syarif Hidayatullah ini, adalah tempat pelaksanaan Workshop Media Massa dan Rapat Kerja BSO Santri. Kegiatan tersebut  mengusung tema “Menuju SANTRI yang Berkemajuan, Adaptif dan Populis”.

Santri dianggap sebagai berandil penting dalam membangun negeri, jika kita hendak kembali bercermin pada kenyataan sejarah. Tidak cukup hanya duduk dan berhadapan dengan kitab sakral, mempelajari dan mengkaji tulisan ulama dahulu. Santri kini haruslah mengaktualisasikan diri, dalam berbagai bidang terkini.

“Ada tiga hal yang dapat membawa kita menguasai dunia; politik, kapitalis, dan media.” tutur narasumber workshop, Zidni Nafi’. “Maka untuk memaksimalkan kegiatan workshop ini, saya wajibkan tiap-tiap peserta untuk membuat berita singkat (straight news) dari sudut pandang peserta sekalian,” lanjutnya kemudian.

Pembuatan berita ini, dimaksudkan untuk mengasah kemampuan jurnalistik para peserta workshop. Para peserta yang adalah calon redaktur BSO SANTRI periode 2016-2017, pun diharapkan menyelesaikan pembuatan berita pada pukul 23.00 WIB. Lalu, bagaimanakah tanggapan peserta kegiatan dengan tantangan tersebut?

“Saya rasa, tantangan oleh Zidni adalah hal yang bagus. Sebagai redaktur periode mendatang kita harus mampu membuktikan kepantasan kita,” ucap Azizah, salah sorang peserta kegiatan dari UIN Semarang. Tantangan bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan, diambang perbatasan kemampuan. Melainkan sebagai wadah olah diri dan keahlian. (zulia/syau)

19.9.16

Menyingkap Rahasia di Balik Penulisan ala Santri, Masyarakat dan Menulis

Tangerang Selatan - mediasantri.com
Sabtu, 17 September 2016 telah diselengggarakan acara Workshop Media Massa dan Rapat Kerja Badan Otonom SANTRI CSSMoRA nasional. Pada materi jurnalistik kali ini membahas mengenai jurnalis santri yang di bawakan oleh saudara moh. Zidni Nafi’, yakni ketua cssmora nasional pada periode ini. Materi ini memiliki judul Perlawanan Kaum Santri Atas Hegemoni Media Massa. Pada kesempatan kali ini ia membahas secara detail mengenai keterkaitan antara pesantren, media massa dan masyarakat. Bagaimana cara media agar dapat memberdayakan masyarakat dengan pesantren?

Pembahasan kali ini mengenai media massa. Dewasa ini kita ketahui banyak sekali masyarakat dan semua kalangan masyarakat yang bertempat tinggal di pondok tidak mengetahui mengenai apa fungsi media massa dan apa pula dampak yang besar apabila tidak mengenal media masa. Zaman yang silih berganti menjadi zaman elektronik, zaman semua puncak kemajuan tehnologi dengan pesatnya mengubah dunia yang damai tanpa adanya cacian akan prasangka buruk dengan dunia yang akan di permasalahkan dengan adanya kabar kabur yang menyerang telinga setiap masyarakat.

Dapat dilihat realita kehidupan modern yang mengunggulkan teknologi ini dengan sigapnya menguasai dunia dengan kegiatan yang tertuju kepadanya. Populasi penduduk dunia sekitar 7 milyar, di antara semua manusia dari pelosok dunia ini sekitar 3 milyar telah menggunakan yang di namakan internet. Tak cuma itu saja, 1 milyar manusia juga telah terperangkap dalam dunia bawah sadar mereka dengan asyiknya menggunakan website di setiap pekerjaan dan menyibukkan dengan duduk manis di depan komputer ataupun laptop. Itulah zaman sekarang yang telah di kenal secara luas di kalangan masyarakat desa maupun yang terbanyak di kalangan masyarakat perkotaan.

Berbeda dengan pada masa-masa dulu, di Indonesia terdapat beberapa kajian pendidikan padepokan atau sering di sebut pondok. Pondok-pondok di nusantara berkembang dengan pesat dan merebah luas seiring dengan berjalannya waktu. Santri pun semakin meruah-ruah dan memiliki sikap antusias terhadap ilmu keagamaan. Pondok atau padepokan terbagi menjadi tiga opsi yaitu pondok salafiyyah, pondok semi-salaf-modern dan pondok modern. Dimana pondok tersebut semakin berjalan pesat dengan tambahan ilmu umum pula. Namun, disisi lain tidak banyak santri yang belum mengetahui mengenai dunia luar, keterbatasan teknologi dalam pondok pesantren membuat para santri tertinggal jauh dari pada anak pada umumnya.

Dalam hal ini pesantren masih memakai masalah verbal, belum mengetahui mengenai internet, penulisan kitab stagnan dan tidak berkembang atau hanya sekedar taqlid terhadap kyai mereka. Di samping itu jamuan informasi mengenai dunia belum meluas hanya mengandalkan koran dan bacaan di perpustakaan mengenai masyarakat, jenis media relatif masih minim dan tidak jarang santri yang masih kolot atau gaptek di dalam pesantren, sistem penulisan belum terpikirkan oleh semua jenis dan karakter pesantren di dunia santri.

Sama halnya dengan masyarakat awam atau masyarakat pedesaan yang memiliki prespektif mengenai analisis media massa ini merupakan  analisis permasalahan yang belum jelas akan kebenarannya. Hal ini membuat masyarakat akan mengasumsikan asumsi yang salah, kefanatikan yang berakibat fatal terhadap paradigma masyarakat.


Masalah-masalah ini yang seharusnya segera di selesaikan dengan adanya pelatihan atau pengantaran masyarakat mengenai berita yang terkadang hanya membawa isu-isu belaka. Akibat dari adanya asumsi yang salah adalah masyarakat akan menulis kembali opini yang masyarakat dengar dari sumber yang tak di percayai, esistensi informasi atau penolakan informasi serta hal tersebut menimbulkan ketagihan bad news issue terhadap masyarakat sendiri yang mengakibatkan perpecah belahan antar masyarakat. (zah/syau)
Dari Santri, Untuk Negeri - CSSMoRA
Ikuti Kami