SANTRI

Media santri dan pesantren

Beragama dan Berbudaya

5.8.16

Dialektika Pesantren dengan Modernitas

Sumber: http://aamaddien.blogspot.co.id/

Oleh: Abdurrahman Az Zuhdi
Negara Indonesia memiliki lembaga pendidikan yang khas orisinil produk pribumi, pesantren. Lembaga pendidikan bernama pesantren ini memiliki daya tarik peneliti dalam maupun luar negeri. Pesantren sebagai sebuah komunitas yang mensintesakan dimensi sosial, budaya dan agama (Wirosardjono:1987). Lokasinya yang terpisah dari pemukiman masyarakat sekitar pesantren menjadikannya eksklusif.  Kelembagaannya terpimpin atas nama Kyai, ajengan atau bendara sebagai tokoh sentral yang menjadi agen budaya (cultural brokers).

Pesantren sebagaimana yang telah diasumsikan banyak orang adalah dunia kaum bersarung dengan peci di atasnya dengan pola pikir yang masih kolot, katrok (bahasa Tukul Arwana) dan jauh dari kata modern, atau mungkin sesuai dengan asumsi H. Mahbub Junaidi sebagai kaum   hippies dengan life pattern, mores and internal authority yang berbeda dengan masyarakat lainnya.  Anggapan seperti ini pada mulanya mungkin dapat diterima mengingat pesantren pada mulanya berada di pinggiran yang mayoritas ekonomi kelas menengah ke bawah. Dalam “Islam Kosmopolitan”-nya, Abdurrahman Wahid mencoba menjelaskan dua unsur pijakan pesantren.  Pertama, yaitu peniruan atas perilaku Nabi, hal ini tercermin dalam ketaatan ritual secara maksimal, penerimaan atas kondisi materi yang serba kurang dan kesadaran kelompok (espirit de corps) yang tinggi.  Unsur kedua, yaitu disiplin sosial yang begitu tinggi.  Golongan pesantren seperti ini kiranya lebih cocok dengan apa yang kita asumsikan dengan pesantren berhaluan salaf, tradisional atau pesantren pedesaan yang menjadi kontras dengan istilah santri perkotaan pada masa lalu.  Pada masa-masa awal,  pesantren tidak memiliki kurikulum sebagaimana lembaga pendidikan formal lainnya.  Hal ini menjadikan santri selaku thalibul ‘ilmi tidak memiliki batas waktu tertentu berapa lama mereka harus nyantri pada suatu pesantren.  Mereka boyong dari pesantren biasanya ketika akan menikah atau ketika sudah dirasa harus mengamalkan ilmunya yang telah memperoleh imprimatur dari sang Kyai kepada masyarakat tempat asalnya, bukan diploma dari seorang Kyai.  Satu-satunya yang menjadi ukuran adalah ketaatannya kepada seorang Kyai dan kemampuannya menyerap ngelmu yang diajarkan (Abdurrahman Wahid:2007).

Pembaharuan pesantren mulai muncul untuk merespon modernitas kemasyarakatan. Isu pembaharuan pesantren bermula dari Tebuireng. K.H. Hasyim Asy’ari mencoba mengembangkan sistem musyawarah serta debat dalam rangka memecahkan masalah dengan syarat adanya referensi, terutama karangan-karangan madzab Imam Syafi’i.  Kemudian pada tahun 1916, Kyai Maksum-menantu K.H. Hasyim Asy’ari- dengan dukungan Wahid Hasyim memasukkan sistem madrasah dalam pendidikan pesantren.  Pada tiga tahun berikutnya madrasah ditambah dengan materi ilmu umum: bahasa indonesia (melayu), matematika dan ilmu bumi.  Kemudian dilanjutkan memasukkan bahasa belanda dan sejarah sebagai materi pelajaran oleh K.H. Muhammad Ilyas atas persetujuan K.H. Hasyim Asyari pada tahun 1926 (M. Tata Taufik dkk: tt).  Pembaharuan lain yang muncul dilakoni oleh KH. Imam Zarkasyi yang menggunakan pendekatan “efisiensi waktu”.  Aplikasi dari gagasan beliau terwujud dengan berdirinya Pesanten Modern Gontor.  Pendidikan yang digagas adalah sebuah pendidikan dasar yang dapat diamalkan oleh para santri dalam kehidupan sehari-hari.   

Berbeda dengan Zamakhsyari Dofier, K.H. Imam Zarkasyi tidak menganggap pengajaran  kitab-kitab klasik sebagai elemen dasar tradisi pesantren, tetapi merupakan khazanah yang perlu dikaji untuk mengenang masa-masa keemasan peradaban Islam. Hal ini menimbulkan materi pengajaran yang berbeda dengan pesantren pada umumnya.  Misalnya jika di pesantren tradisional diajarkan Alfiyah Ibnu Malik untuki materi nahwu shorf, di Gontor cukup dengan Nahwu wadhih yang sarat dengan contoh sebagai dasar ilmu alat. Keilmuan yang diajarkan juga lebih bersifat modern dan kontekstual seperti pengajaran tafsir Al-Manar-nya Muhammad Abduh dan Bidayatul Mujtahid-nya Ibnu Rusyd. Di samping al-jabar, matematika, fisika, ilmu tata buku (administrasi), geografi serta penguasaan bahasa inggris dan dan bahasa arab sebagai fokus utama.

Pesantren dalam era kekinian tidak hanya sebagai lembaga pencetak ulama (dalam konotasi agamawan) tetapi juga mencetak ilmuan berkarakter islami.  Materi pelajaran umum yang dulu jarang diberikan untuk santri kini sudah mulai berjalan beriringan, bahkan tidak sedikit pesantren yang memporsikan pendidikan umum lebih besar daripada pengajaran materi keagamaan (ilmu hadist dan tafsir).  Pesantren untuk menjaga eksistensinya serta menjawab kebutuhan pendidikan banyak yang mendirikan lembaga pendidikan umum seperti Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidai’yah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTS) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) juga Perguruan Tinggi (PT) baik keislaman maupun non-keislaman.  Alumni pesantren kini tidak bisa dipandang sebelah mata.  Pembentukan karakter diri dan moralitas mengantarkan mereka menduduki jabatan yang tidak sembarangan dalam pemerintahan dan pergaulan kemasyarakatan.  Kita lihat bagaimana pasukan Hisbullah yang muncul berdasarkan fatwa Resolusi Jihad dari Jombang oleh K.H. Hasyim Asy’ari dalam rangka mempertahankan kemerdekaan; Abdurrahman Wahid dengan gigihnya mengkoarkan semangat demokrasi hingga lengsernya rezim Orde Baru; Ari Ginanjar dengan ESQ-nya merekonstruksi mainstream pikiran seseorang agar berpikir positif dan semangat dalam berjuang atau Jusuf Kalla yang menjembatani perdamaian antara umat Islam dan Kristen di Poso.

Pesantren kini telah mengalami perubahan dalam rangka menjawab tantangan zaman dan mempertahankan nilai-nilai keislaman.  Pesantren yang dulunya tanpa kurikulum sekarang telah disistematiskan dengan sisten thabaqah (kelas). Yang dulunya menggunakan sistem wetonan, bandongan musyawarah, bahtsul kutub serta tahfidh, kini metode tersebut lebih diintensifkan dengan teknologi modern.  Pesantren yang dulu terkenal dengan sifat asketisme-nya kini telah mengenal yang namanya teknologi informasi, pramuka, ilmu peternakan dan pengolahan koperasi sebagai roda ekonomi pesantren.  Pesantren saat memasuki dunia modernitas agar perilaku modernitas sesuai dengan garis syariat.  Inilah yang diasumsikan bahwa pesantren merupakan keunikan kelompok yang melakukan filterisasi terhadap modernitas dan budaya luar yang masuk.  Kontekstualisasi esensi nilai salaf mencoba dilakukan agar dapat diterima sesuai porsi, situasi dan kondisi sehingga bisa dipahami sebagai fleksibelitas agama.

Melihat prospek pesantren begitu besar dalam pembentukan jati diri bangsa dengan pengembangan keilmuan, pemerintah mulai menaruh perhatian yang besar terhadap pesantren.  Alumni pesantren baik tradisonal/salaf maupun modern yang memiliki potensi mulai diarahkan untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi sebagai akreditasi tingkat pendidikan yang bersifat nasional maupun internasional.  Perhatian ini membawa angin segar bagi mereka yang mencoba mendalami keilmuan lain untuk dikombinasikan dengan ilmu keagamaan agar dapt diterima tidak hanya masyarakat daerah asal tetapi kapabilitasnya juga diakui secara de jure.  Program-program pemberdayaan santri telah digalakkan.  Mulai pengenalan information technology (IT),  pengembangan sektor pertanian dan peternakan hingga pemberian beasiswa bagi santri berprestasi.  Ini merupakan kesempatan dan peluang bagi santri untuk menyebarkan serta menanamkan nilai-nilai keislaman yang sarat dengan etika dalam setiap aktifitas.  Sekarang tinggal santri sendirilah bagaimana mereka merespon serta memanfaatkan peluang ini.

Rancangan Perkembangan Sistem Informasi Di Pesantren

Sistem informasi merupakan suatu sistem yang menyediakan informasi untuk manajemen dalam mengambil suatu keputusan dan juga untuk menjalankan operasional perusahaan, sistem tersebut merupakan kombinasi dari orang-orang, teknologi informasi dan prosedur-prosedur yang terorganisasi.

Menurut John F. Nash, sistem informasi adalah kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang bermaksud menata jaringan komunikasi yang penting, proses atas transaksi-transaksi tertentu dan rutin, membantu manajemen dan pemakai intern dan ekstern dan menyediakan dasar pengambilan keputusan yang tepat. Kemudian menurut Henry Lucas, sistem informasi adalah suatu kegiatan dari prosedur-prosedur yang diorganisasikan, bilamana dieksekusi dan meyediakan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan pengendalian di dalam.

Berikut merupakan komponen-komponen yang ada di dalam sistem informasi :
1.      Komponen input
Input merupakan data yang di masukkan ke dalam sistem informasi.
2.      Komponen model
Kombinasi prosedur, logika, dan model matematika yang memproses data yang tersimpan di basis data dengan cara yang sudah di tentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.
3.      Komponen output
Output informasi yang berkuliatas dan dokumentasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen serta semua pemakai sistem.
4.      Komponen teknologi
Teknologi merupakan alat dalam sistem informasi,  teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirim output, dan memantau pengendalian sitem.
5.      Komponen basis data
Merupakan kumpulan data yang saling berhubungan yang tersimpan di dalam komputer dengan menggunakan software database.
6.      Komponen kontrol
Pengendalian yang dirancang untuk menanggulangi gangguan terhadap  sistem informasi.

Selain mempunyai komponen-komponen yang ada diatas, sistem informasi juga mempunyai karakter, diantaranya adalah :
·         Sistem informasi memiliki komponen yang berupa subsistem yang merupakan elemen-elemen yang lebih kecil yang membentuk sistem informasi tersebut misalnya bagian input, proses, dan  output.
·         Ruang lingkup sistem informasi yaitu ruang lingkup yang di tentukan dari awal pembuatan yang merupakan garis batas lingkup kerja sistem tersebut sehingga sistem informasi tersebut tidak bersinggungan dengan sistem informasi lainnya.
·         Tujuan sistem informasi adalah hal pokok yang harus di tentukan dan dicapai dengan menggunakan sistem informasi tersebut, sebuah informasi dianggap berhasil apabila dapat mencapai tujuan tersebut.
·         Lingkungan sistem informasi yaitu sesuatu yang berada diluar ruang lingkup sistem informasi yang dapat mempengaruhi sistem informasi, hal ini turut dipertimbangkan pada saat perencanaan sistem informasi.

Pesantren dan Teknologi
Dalam pembacaannya terhadap dinamika masyarakat global, Azyumardi Azra menegaskan bahwa keunggulan yang mutlak dimiliki bangsa ini adalah penguasaan sains-teknologi dan keunggulan kualitas sumber daya manusianya. Penguasaan terhadap sains-teknologi, sebagaimana terlihat di Amerika, Jepang, Jerman dan negara-negara lain, menunjukkan bahwa sains-teknologi merupakan salah satu faktor terpenting yang mengantarkan mereka pada kemajuan (Azra,2001:46).

Akan tetapi, sesuai tujuan pembangunan Indonesia untuk mewujudkan manusia yang sejahtera lahir batin, maka penguasaan sains-teknologi memerlukan perspektif etis dan panduan moral. Sebab, seperti juga terlihat dari pengalaman negara-negara maju yang disebutkan di atas tadi, kemajuan dan penguasaan sains-teknologi yang berlangsung tanpa perspektif etis dan bimbingan moral akan menimbulkan berbagai konsekuensi negatif, yang dalam istilah Seyyed Hossein Nasr telah membuat manusia semakin menjauh dari pusat eksistensial-spiritualnya.

Mempertimbangkan kenyataan ini, pembangunan dan penguasaan sains-teknologi di Indonesia seyogyanya berlandaskan pada wawasan moral etis. Jika tidak, maka Indonesia hanya akan mengulangi pengalaman pahit yang muncul sebagai dampak negatif sains-teknologi yang tidak memiliki wawasan tersebut. Disinilah letak tanggung jawab kemanusiaan kita untuk mengembangkan sains-teknologi tidak untuk diri sendiri, tetapi sains-teknologi yang memiliki wawasan moral etis.

Dalam konteks inilah, pesantren mengemban tugas yang semakin berat. Sebagai institusi pendidikan yang berbasis nilai-nilai keislaman, pesantren diharapkan meningkatkan perannya dalam transfer of Islamic value dan sekaligus transfer of science and technology. Padahal, pesantren sendiri hingga saat ini masih bergelut dengan sekian permasalahan yang tak kunjung selesai, seperti minimnya upaya pembaharuan cara belajar mengajar, hampir tidak menyentuh ilmu-ilmu modern, pembelajaran yang masih bernuansa banking education, dan orientasi yang cenderung mengutamakan pembentukan abdullah daripada keseimbangan antara abdullah dan khalifatullah fi al-ardl (Assegaf,2004).

Saat ini dibutuhkan pesantren yang berwawasan global, yakni pesantren yang selalu tanggap terhadap perubahan dan tuntutan zaman, future-oriented, selalu mengutamakan prinsip efektifitas dan efisiensi dan sebagainya. Namun demikian, pesantren tidak harus mengubah atau mereduksi orientasi dan idealismenya. Nilai-nilai luhur pesantren juga tidak perlu dikorbankan demi program penguatan eksistensi pesantren. Kendati harus berubah, menyesuaikan, bermetamorfose atau apapun namanya, dunia pesantren harus tetap hadir dengan jati dirinya yang khas.

Sistem Informasi Pesantren
            Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang berperan penting dalam penyebaran agama islam dan mengajarkan nilai-nilai keislaman sehingga menciptakan manusia-manusia yang mempunyai jiwa keislaman yang sangat kuat, pesantren juga merupakan lembaga pendidikan pertama sebelum adanya lembaga pendidikan modern yang di kenalkan oleh para penjajah. Pesantren mempunyai tradisi tersendiri dalam sistem pendidikannya, walaupun muncul sistem pendidikan modern yang dibawa oleh para penjajah negara kita, keberadaan pesantren tetap eksis sampai sekarang sebagai lembaga pendidikan yang mengusung ajaran islam berpedoaman kepada ajaran Alquran dan hadits.

       Seiring berkembangnya zaman, berbagai pondok pesantren modern mulai mengembangkan sistem pendidikannya secara modern, tetapi kebanyakan permasalahan lembaga pondok pesantren kesulitan dalam memberikan contoh penggunaan dari ilmu yang dipelajari khususnya di bidang Teknologi Informasi (TI), apalagi pesantren di kalangan masyarakat awam masih terkenal dengan tradisi salafnya dan dikenal sebagai santri yang gaptek. Melihat kondisi yang demikian, kita para generasi muda alumni pesantren berusaha menghilangkan pandangan jelek masyarakat terhadap pesantren.

            Sudah banyak pesantren yang mengembangan bidang keilmuan yang diajarkan, khusunya dibidang teknologi seperti Sistem Informasi PSB secara online, absensi dengan finger print, sistem informasi simpan pinjam keuangan, e-learning, Sistem Informasi akademik (SIAKAD online), publikasi online (website), multimedia class, E-magazine, dsb.

            Berikut adalah contoh pondok pesatren yang akan mengembangkan dan  menggunakan sistem informasi pendaftaran santri baru secara online berbasis android mobile, yaitu pondok pesantren Trisula Al-Mustamar Pare Kediri Jawa Timur, dengan adanya sistem informasi berbasis android mobile akan memudahkan para calon santri baru yang akan mendaftar, pendaftaran bisa diakses di manapun kita berada dan hanya bermodalkan smartphone android.

Dan selanjutnya adalah contoh raport digital atau laporan hasil studi siswa yang bisa diakses oleh orang tua secara online tanpa harus mendatangi sekolah terlebih dahulu. Sistem ini digunakan oleh SDN Guci 1 Lamongan, dengan adanya sistem informasi ini, memudahkan para orang tua yang bekerja di luar negeri atau sedang di luar kota, bisa mengakses langsung hasil studi putra putrinya.

Laporan Hasil Siswa

 Untuk memenuhi banyaknya rancangan-rancangan perkembangan pesantren melalui pembangunan teknologi, bukan hanya dengan wacana semata, akan tetapi harus disertai dengan aksi yang nyata dengan mencetak SDM yang berkualitas berbasis teknologi. Lulusan pesantren pun diharapkan dapat menguasai ilmu teknologi, selain ilmu agama. Hal ini bertujuan untuk mengubah persepsi masyarakat awam bahwa pesantren indentik dengan hal-hal yang tidak baik seperti kumuh, kotor, sarang teroris, dsb. Selain ilmu agama, santri harus paham juga tentang ilmu sains dan teknologi.

4.8.16

Meresapi Sejarah dan Ajaran Mbah Kyai Syafa'at

Judul Buku     : Mbah Kiai Syafa’at - Bapak Patriot dan Imam Al-Ghazalinya Tanah Jawa
Penulis            : Muhammad Fauzinuddin Faiz      
Penerbit         : Pustaka Ilmu, Yogyakarta
Cetakan          : I,  Maret 2015
Tebal              : xlii + 170 Halaman
ISBN                : 978-602-7853-66-9
Peresensi       : Izza Alimiyah Prananingrum

Sejak zaman pra kemerdekaan, pesantren telah menunjukkan perannya yang besar dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan. Lebih dari itu, pesantren tidak saja telah menjadi lembaga pendidikan biasa, melainkan telah menjelma menjadi basis pengkaderan atau rahim dari terlahirnya para pemimpin di Nusantara dan terlahirnya para pejuang unggul kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Lembaga yang menempatkan santri dan kyai dalam lokal tempat tinggal yang sama itu juga menjadi basis pergerakan perlawanan terhadap penjajah, saat banyak sekali kerajaan-kerajaan di Nusantara mengalami pelemahan dan keruntuhan.

Peran besar itu tidak berhenti hanya sampai kemerdekaan bangsa ini dapat digenggam, melainkan terus berlangsung hingga saat ini. Pada masa kekinian, pesantren telah menjadi basis kontrol sosial dan penggemblengan moral dan akhlakul karimah para generasi bangsa.

Dalam perjalanan bangsa ini, para kyai telah secara nyata memberikan jasa dan prioritas khusus. Salah satu diantaranya ialah seorang Kyai dari Banyuwangi yang telah banyak mengambil peran, baik sebagai seseorang yang memegang peran sentral di pesantren maupun sebagai salah satu pejuang kemerdekaan.

Mahasantri sebagai generasi penerus perjuangan bangsa perlu mengenal kyai tersebut agar terinspirasi dan meneladaninya. Kyai tersebut memiliki nama lengkap KH. Muchtar Syafa'at Abdul Ghofur, atau yang hangat disapa Mbah Kyai Syafa'at.

Buku yang ditulis oleh Muallim Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak ini menceritakan tentang perjalanan hidup dan teladan Mbah Kyai Syafa'at, yang merupakan pendiri Pondok pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Telah berpulangnya Mbah Kyai Syafa'at dapat menjadi kegelisahan tersendiri bagi yang belum memiliki kesempatan untuk belajar kepada beliau. Namun buku ini dapat menjawab kegelisahan itu sendiri, karena buku ini pun menyuguhkan pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran Mbah Kyai Syafa'at dengan lugas. Buku ini juga dapat menjadi pelipur atas kerinduan kita kepada beliau.

Penulis menyuguhkan pengajaran-pengajaran bermakna yang disampaikan Mbah Kyai Syafa'at tentang kehidupan sehari-hari. Seperti akhlak seorang santri, akhlak dalam berhubungan dengan alam, tatacara dalam membina rumah tangga, dan masih banyak lagi. Kita seolah disuguhkan dengan sebuah film dokumenter secara langsung berisi kehidupan keseharian Mbah Kyai Syafa'at melalui buku ini.

Dalam buku yang ditulis oleh Muhammad Fauzinuddin Faiz ini, dijelaskan bahwa Mbah Kyai Syafa'at memiliki julukan "Imam Ghazali nya tanah Jawa". Hal itu karena banyak sekali teladan Mbah Kyai Syafa'at yang beliau sarikan dari ajaran-ajaran Imam Al-Ghazali. Beliau pun menjadikan kitab Ihya' 'Ulum al-Din dan Fatihatul 'Ulum sebagai kitab utama yang harus dipelajari para santri Darussalam Blokagung.

Kelebihan lain yang perlu disoroti dari buku ini ialah penulis yang merupakan alumni PBSB UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut berhasil menyuguhkan buku yang penuh pelajaran ini dalam bahasa yang mudah dipahami. Ia mampu menyajikan cerita dengan apik dan membuat buku ini menjadi bacaan yang tidak membosankan.

Sehingga buku ini tidak saja dapat dibaca oleh para sejarawan, namun juga dapat dibaca oleh masyarakat awam. Buku yang nantinya menjadi trilogi ini (dalam catatannya, ia menulis bahwa buku ini sebagai gerbang untuk menikmati buku kedua dan ketiga) tidak hanya dapat dibaca oleh para mahasiswa, namun dapat pula dibaca oleh para siswa. Mudah dipahaminya buku ini menjadi sangat penting, agar intisari buku ini dapat diserap dengan mudah oleh para pembacanya.

Akhirnya, membaca buku ini mampu mendekatkan kita kepada sosok seorang Kyai yang tidak hanya inspiratif dalam menjajaki perjalanan hidup, namun juga inspiratif dalam memberikan sumbangsih dan peran yg dilakukan semasa hidupnya.

18.6.16

Puasa Sebagai Pengentas Degradasi Moral Bangsa

 
Oleh: KH. Nuril Huda, Mantan Ketua Lembaga Dakwah PBNU

Kompleksitas problematika yang terjadi di Indonesia sebenarnya tidak disebabkan oleh krisis ekonomi. Lebih-lebih saat ini Indonesia sudah masuk sepuluh besar kekuatan ekonomi dunia. Faktor paling krusial penyebab problem akut yang terjadi hampir di seluruh sektor kehidupan di Indonesia ini adalah degradasi moral.

Untuk mereparasi pribadi manusia, Islam datang membawa Ramadhan dengan kewajiban ibadah puasa di dalamnya. Ramadhan sendiri diambil dari akar kata yang berarti “membakar” atau “mengasah”. Dinamai demikian karena pada bulan ini dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar, akibat kesadaran dan amal salehnya atau disebut demikian karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia.

Puasa Ramadhan menjadi ajang pelatihan bagi umat Islam salah satunya adalah untuk senantiasa berlaku jujur–sesuatu yang sangat sulit ditemukan di negeri kita saat ini. Hal ini disebabkan puasa merupakan ibadah yang sangat sulit dideteksi. Puasa menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Allah. Akan sangat sulit membedakan mana yang puasa dan mana yang tidak, berbeda dengan ibadah yang lain seperti shalat, zakat, haji dan lain sebagainya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist qudsi bahwa semua peribadatan memiliki takaran pahalanya kecuali puasa. Allah sendiri yang akan membalas pahala puasa.

Kejujuran menjadi sangat penting karena ia merupakan kunci untuk membuka pintu kebaikan-kebaikan yang akan mengantarkan pelakunya ke surga (dalam sebuah hadist disebutkan: ‘alaikum bi al-shidqi fainna al-shidqa yahdi ila al-birri wa inna al-birra yahdi ila al-jannah.  Kejujuran juga akan melahirkan rasa takut dan takwa pada Allah. Rasa takut itu lah yang melahirkan moralitas seorang muslim. Oleh karena itu, makna puasa tidak hanya sebatas menahan diri dari makan, minum, berhubungan badan ataupun segala hal yang secara normatif membatalkan puasa. Jauh lebih dari itu, segala perbuatan dan perkataan yang tidak baik dijauhi dengan penuh kesadaran dan rasa taqwa kepada Allah. Inilah tujuan puasa yang diisyaratkan oleh alquran, yaitu ketakwaan sebagai bekal mengarungi kehidupan dunia dan akhirat, karena sebaik-baik bekal adalah ketakwaan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183QS: 2: )
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ (197QS: 2: )                          
Dalam menyongsong bulan Ramadhan, diperlukan penghayatan yang benar, kesadaran dan semangat untuk memperbaiki bangsa. Ada beberapa langkah praktis yang bisa ditempuh agar tidak keliru dalam memahami makna puasa Ramadhan. Pertama, hendaknya seorang muslim memilih teman bergaul yang bisa memberikan pengaruh positif. Dalam ilmu jiwa, pengaruh negatif dari lingkungan teman menular lebih cepat dari pada pengaruh positif. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendekat dengan orang-orang shalih. Salah satu bentuk yang nyata adalah dengan menghadiri majlis-majlis ta’lim.

Dalam suatu riwayat disebutkan, Uqbah bin Abdul Mu’in, salah seorang penduduk Makkah, memiliki kebiasaan yang luhur. Ia terbiasa mengundang seluruh masyarakat Makkah untuk santap malam di kediamannya. Hanya saja kawan bergaulnya adalah orang kafir dan munafiq. Pada suatu ketika Nabi diundang dalam jamuan makan malamnya. Dalam kesempatan itu Nabi tidak bergerak dari tempatnya. Beliau tidak berkenan makan karena Uqbah masih belum memeluk Islam. Nabi merasa khawatir makanan yang disajikan tidak sesuai dengan ajaran Islam baik bahan maupun tata caranya. Akhirnya, Uqbah memilih masuk Islam dan bersyahadat di hadapan Nabi. Keislaman Uqbah ini diketahui kawan-kawannya. Setelah perjamuan usai, kawan-kawannya menghampirinya dan bertanya, “Uqbah! Kamu sungguh masuk Islam?” Uqbah menggeleng dan mengatakan bahwa dia hanya pura-pura agar Nabi mau memakan sajiannya meskipun pada akhirnya Nabi tetap tidak mau memakannya. Rupanya, teman-temannya tidak memercayai dan memintanya untuk membuktikan sandiwaranya dengan menampar Nabi keesokan harinya. Semalam suntuk Uqbah tidak bisa tidur. Jika menampar Nabi, dia sudah mengakui kebaikan Nabi dan sungguh-sungguh masuk Islam. Jika tidak dilakukan, dia akan kehilangan teman-temannya. Dia pun memilih untuk tidak kehilangan teman-temannya.

Keesokan harinya, Uqbah dikawal teman-temannya mencari Nabi. Setelah bertemu, dia tidak jadi menampar. Dia “hanya” meludahi muka Nabi. Namun, ludahnya tidak sampai ke muka Nabi melainkan berbalik arah pada mukanya sendiri. Akhirnya, Uqbah sakit fatal selama 8 tahun. Ketika menjelang akhir hidupnya, ia menyesali sikapnya yang menggagalkan keislamannya hanya karena takut kehilangan teman hidupnya. Kisah ini direkam oleh Allah dalam al-Qur’an surat al-Furqan:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)

Kedua, salah satu sebab seorang muslim salah dalam menghayati makna puasa adalah memahami Islam tidak lengkap. Dia tidak punya guru. Dia tidak punya majlis ta’lim. Melihat ceramah di TV saja tidak cukup, harus bertemu langsung dengan seorang kyai atau ustadz. Saat ini ustadz semakin banyak yang tampil di publik, akan tetapi moralitas justru semakin merosot. Hal ini karena tiada keikhlasan dalam diri para ustadz tersebut. Mereka memasang tarif yang terkadang bahkan tidak logis, seperti kasus salah satu ustadz yang meminta bayaran hingga 160 juta ketika diundang berdakwah ke Hongkong. Inilah salah satu faktor penyebab rusaknya Islam, agama sudah diperjualbelikan. Oleh karena itu, perlu untuk berguru secara langsung (muwajahah) pada kyai atau ustadz yang kita yakini kebenarannya, yaitu mereka yang bermoral.

Dalam melakukan ibadah puasa dan ibadah lainnya secara umum sangat diperlukan adanya keikhlasan. Inna shalati wa nusuki wa mahyaya lillahi rabb al-‘alamin, segala ibadah harus diniatkan hanya untuk Allah. Memang ikhlas itu sulit, akan tetapi tidak ada satu kesulitan yang tidak disertai dengan seribu satu kemudahan. Perlu latihan yang berkesinambungan untuk mendapatkannya. Jangan sampai meninggalkan puasa karena merasa belum ikhlas. Puasalah dengan sungguh-sungguh berusaha diikhlaskan karena Allah. Lama-lama akhirnya akan menjadi ikhals juga.

Keikhlasan dan penghayatan yang benar terhadap puasa pasti meningkatkan ibadah seseorang, baik secara kualitas maupun kuantitas. Seperti halnya haji, ada yang mabrur dan ada juga yang mardud. Selain itu, di akhirat kelak disiapkan pintu khusus masuk surga bagi mereka yang berpuasa dengan sebenar-benarnya, puasa yang melahirkan moralitas yang luhur, yaitu bab al-Rayyan.




Momen Ramadhan diharapkan dapat membuat Indonesia kembali menjadi bangsa yang relijius, bangsa yang beragama. Sangat penting menyongsong Ramadhan dengan penuh penghayatan. Nabi saja yang sudah ma’shum meminta untuk dipertemukan dengan bulan Ramadhan, apa lagi kita sebagai hambanya yang berlumuran dosa. Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan (Duhai Allah! Berilah kami berkah dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan). Amin.  
Wallahu A’lam. (Itsbat/SANTRI)

15.5.16

Rapat Kerja, CSSMoRA UIN Jakarta Canangkan Jalan Sehat Santri

Tangerang Selatan – Pasca dilantik 1 Mei lalu, pengurus CSSMoRA (Community Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2016-2017 melaksanakan Rapat Kerja. Dimulai Sabtu pagi (14/5) di Auditorium FKIK (Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, rapat kerja ini berlangsung sampai Sidang Paripurna pukul 05.05 hari Minggu (15/5).


Sebagai program unggulan yang akan turut menyukseskan dan menyemarakkan Hari Santri Nasional 22 Oktober, CSSMoRA UIN Jakarta mengagendakan program Jalan Sehat Santri dan Pengobatan Gratis untuk seluruh elemen santri dari mahasiswa dan santri-santri pesantren di sekitar Ciputat, Tangerang Selatan. Selain itu program ini juga sebagai bentuk memperkenalkan CSSMoRA dan Gerakan Ayo Mondok! kepada masyarakat luas.

Rapat kerja CSSMoRA UIN Jakarta kali ini membahas program dan anggaran yang dicanangkan oleh kepengurusan dibawah pimpinan Anis Sanjaya, anggota CSSMoRA asal Pati angkatan 2014. Anis dalam sambutannya menyatakan bahwa rapat kerja ini adalah langkah awal dalam membangun CSSMoRA UIN Jakarta yang lebih baik dari sebelumnya, dan lebih menguatkan karakter santri juga mahasiswa bidang kesehatan. “Kami memohon segala masukan atas inovasi dalam program kerja, sehingga dapat menjadikan CSSMoRA UIN Jakarta organisasi yang nyaman bagai rumah kita bersama,” ujar Anis dalam sambutannya.

CSSMoRA UIN Jakarta terdiri dari lima departemen dan tiga Badan Semi Otonom (BSO) yang akan menunjang kinerja kepengurusan. Departemen yang ada ialah Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Organisasi (PSDMO), Departemen Pendidikan dan Profesi (Penprof), Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Departemen Keislaman, serta Departemen Pengabdian Pesantren dan Pengembangan Masyarakat (P3M). Selain itu, Badan Semi Otonom terdiri dari BSO Sega, BSO Denta, serta Badan Usaha Milik Mahasantri (BUMMS)

Banyak program kerja yang dicanangkan kepengurusan Anis Sanjaya melanjutkan dan mengembangkan program dari kepengurusan periode lalu. Program eksternal unggulan seperti CSS Cup, Pembinaan Pesantren, serta CHEMO (CSSMoRA Health and Medical Olympiad) untuk madrasah dan pesantren akan kembali diadakan. (Iqbal Syauqi/Fathurrohman)
Dari Santri, Untuk Negeri - CSSMoRA
Ikuti Kami