Share Content

Nasehat Imam Abu Hanifah

Senin, 15 Februari 2010 08:51 WIB
oleh zaenal arifin


Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Orang itu mengeluh, "Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, tiada seorang pun lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi belum datang setetes air atau sesuap nasi ke perutku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, adakah orang yang mau memberi walaupun setetes air."


Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah merasa kasihan sehingga beliau melemparkan bungkusan yang berisi uang kepada orang yang menangis itu. Abu Hanifah lalu meneruskan perjalanannya. Orang ini terkejut ketika mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas segera dibukanya. Ternyata bungkusan itu berisi uang dan selembar kertas yang bertulis, "Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu, kamu tidak perlu mengeluh dengan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan jangan berhenti memohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."


Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melewati lagi rumah itu dan suara keluhan itu terdengar lagi, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika tidak diberi, akan lebih sengsaralah hidupku."


Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan selembar kertas dari luar jendela, lalu beliau meneruskan perjalanannya. Orang itu sangat senang mendapat bungkusan lagi. Dengan cepat dibukanya. Seperti kemarin, dibacanya tulisan itu yang ada dalam kertas itu, "Hai kawan, bukan begitu cara memohon, bukan demikian cara berikhtiar. Perbuatan demikian "malas" namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh Allah tidak senang melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan....jangan berbuat demikian. Hendaklah engkau senang bekerja dan berusaha keras karena kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari dan diusahakan. Orang hidup tidak bisa duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan mengabulkan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, kamu akan mendapat rezeki, selama kamu tidak berputus asa. Nah...carilah segera pekerjaan, saya akan berdoa semoga engkau sukses."


Setelah selesai membaca surat itu, dia termenung, insaf dan sadar akan kemalasannya. Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari rezeki. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikut peraturan-peraturan hidup dan tidak lagi melupakan nasihat dari Imam Abu Hanifah itu.


 


Ditulis oleh Hendra Setiawan.



Komentar

Awal Sebelumnya Selanjutnya Akhir

Gabung Jadi Santri
Segeralah bergabung dan temukan sahabat anda sesama santri untuk bersilaturahmi.









 
Dari Blog Santri
Hai Dunia
Ini adalah postingan pertamaku saat bergabung bersama MediaSantri Blog.Kedepan InsyaAllah saya akan coba terus menulis di blog tercinta saya ini
Alarm Radikalisme dari Mimbar Masjid
Perburuan terhadap jejaring teroris memasuki babak baru. Seminggu setelah ditahan atas dugaan terlibat dalam pendanaan terorisme, Muhammad Ricky Ardhan alias
Apakah pantas untuk direnungkan?
Apakah orang lain akan merasa kehilangan kita bila kita tidak hadir? Apakah orang lain akan menyesali kematian kita yang dirasa begitu
Santri Baru
freccy harisanto
hartiti
Ahmad Fawaid Sjadzili
Khoirun Nisa
Dhewia
ahmad afandi
azis lokajaya
Abdul Choliq Mi’roj
Nur Hidayat
Septi Setiawati
Muhammad Ahsan
Izzul A’la