PMII, Politik dan Moralitas Organisasi

Iklan Semua Halaman

PMII, Politik dan Moralitas Organisasi

Selasa, 16 Juli 2019
Foto: Ach Faizi, Aktivis PMII IAIN Madura.

"Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau biasa disingkat PMII selalu menjadi organisasi lokomotif gerakan sosial dan civil society." begitulah kata Imam Nahrawi yang saat ini menjadi Menteri Pemuda dan Olagraga. Selain tempat penempaan diri, PMII menjadi tempat yang banyak digandrungi para kalangan pemuda dari unsur mahasiswa.

Dalam ilmu pengetahuan sosiologi, organisasi atau komunitas sekecil apapun yang hadir dalam realitas kehidupan baik masyarakat maupun mahasiswa merupakan instrumen, bahkan gerakan politik.

Tentu banyak adagium seseorang mengistilahkan politik sesuai dengan persepsinya masing-masing. Disebabkan sosio-kultur setiap orang menentukan gerak derap dan penggunaan nalar mereka.

Ada yang memaknai politik sebagai adanya gerakan anarkis, maka bisa dianasir bahwa lingkungan mereka sedang tidak stabil. Baik dalam struktur bahasa maupun penyapaan sikapnya kepada lingkungan.

Ada pula yang memaknai politik sebagai bagian dari dinamisasi kehidupan. Maka dari itu, siapa pernah menyangka ada ribuan bahasa yang keluar dari proses interpretasi setiap orang yang tidak pernah sama memaknai politik, hal itu karena sesuai dengan persepsi dan interpretasi pribadi.

Membandingkan politik persepsi dengan politik ideal. Akan panjang pembahasannya, dan perdebatan ini tak kunjung selesai. Hanya saja, hal yang paling penting dari politik adalah kemanusiaan, kata Gusdur, sang tokoh legendaris peletak pluralisme di Indonesia.

PMII dan Demokrasi Kampus

PMII mempunyai prinsip nilai yakni tasamuh (toleransi), dimana prinsip ini menjadi akses kedua setelah kader PMII membaca. Tentu dalam proses membaca kita melalui fase berpikir dan merenung tentang ide, bagaimana menyikapi suatu permasalahan melalui banyak pertimbangan. Melalui membaca, kader akan tau bagaimana memposisikan dirinya dihadapan demokrasi, khususnya demokrasi kampus.

Sebagai organisasi kaderisasi, PMII juga menjadi dimensi gerakan para kadernya untuk eksis dalam dinamika kehidupan kampus. Kedua hal ini tersentral pada terbentuknya kader yang Ulul Albab, dimana seorang kader haus akan ilmu pengetahuan, menjadi bagian dari masyarakat, menyatakan keberpihakannya kepada kepentingan kolektif.

Terlebih, PMII adalah organisasi yang dilegitimasi pemerintah sebagai organisasi kemahasiswaan yang kehadirannya selalu ikut andil dalam penataan konsep besar negara. Hal ini semua berkat kiprah para founding father PMII yang telah memberikan marwah bagi organisasi. Oleh karena itu, organisasi yang lengkap dengan administrasi, prinsip-nilai, dan aturan-moral menjadikan PMII sebagai ideologi bagi setiap kadernya yang aktif di berbagai elemen masyarakat.

Seperti halnya korporasi atau badan hukum yang lainnya mempunyai aturan internal yang sifatnya mengikat dan menyeluruh. PMII di setiap level kepengurusan mempunyai aturan tersendiri yang sesuai dengan budaya setempat. Hal ini diselesaikan di forum permusyawaratan yang disepakati oleh kepengurusan. Ini yang menjadi dasar hukum demi terwujudnya cita besar dan keharmonisan kader PMII.

Sebagai contoh, PMII membuat aturan yang mengikat tentang perekoman kader yang akan didistribusikan menjadi ketua ormawa di kampus. Hasil yang disepakati diupayakan dilakukan oleh segenap kader demi menjaga integritas dan mobilitas organisasi. Karena satu, PMII menjadi ideologi bagi setiap kadernya.

Setiap permusyawaratan yang dilakukan PMII selalu berlandaskan Pancasila, AD/ART, serta aturan yang lainnya. Oleh karena itu PMII sebagai ideologi, ide maupun konsep menjadi keniscayaan untuk kader memahami dan menjalankannya. Selain kader dapat memetik hikmah dari adanya proses, di sisi lain kader menjalankan tugas organisasi yang selaras dengan tujuan PMII.

Moralitas Organisasi

Sebagaimana dirilis di media mojok.co, China dikenal dengan ajaran moral. Dimulai dari persoalan kecil tentang menghormati keluarga yang telah meninggalkan kita, sampai soal krusial tata kenegaraan seperti pola-pola pemimpin dan seperti apa kriterianya. Yang hal itu juga ada di PMII sebagaimana ungkapan yang sering terlontar yakni "Jangan pernah meminta kepada PMII, tapi dedikasikan dirimu untuk PMII." menjadi prinsip bagi setiap kader untuk senantiasa tetap mereka ingat dan selalu mereka jaga.

Moral adalah bagian dari politik, tentu bagian dari tercapainya demokrasi yang baik. Di sinilah letak pentingnya moral pada kehidupan organisasi, sebagai pelaksana gerakan intuitif dari seluruh kader sebagaimana menghadapi kehidupan sosial yang terus dinamis. (*)

*Ach Faizi, Aktivis PMII IAIN Madura.